Jakarta, 3 Juli 2026 – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie menyelenggarakan Guest Lecture Komunikasi Organisasi dan Komunikasi Bisnis dengan tema “Navigating Organizational and Business Communication in a Changing Workplace” di Auditorium Universitas Bakrie, Bakrie Tower lantai 42, Jakarta.
Kegiatan ini menghadirkan dua praktisi komunikasi dari sektor pemerintahan dan industri, yaitu A. Firmannamal, Ph.D., Public Relations Manager Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, serta Bernadeta Dwi Hapsari, HR Kompas Gramedia Group of Retail & Publishing. Melalui sesi ini, mahasiswa diajak memahami bagaimana komunikasi profesional dijalankan dalam organisasi yang terus berubah, baik karena perkembangan teknologi, dinamika generasi, maupun tuntutan kolaborasi lintas fungsi.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Suharyanti, M.S.M., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya program studi untuk mendekatkan pembelajaran di kelas dengan praktik komunikasi di dunia kerja.
“Komunikasi organisasi dan komunikasi bisnis tidak cukup dipahami hanya sebagai teori. Mahasiswa perlu melihat bagaimana komunikasi bekerja dalam situasi nyata, ketika organisasi harus mengambil keputusan, membangun kolaborasi, menghadapi perubahan, dan menjaga profesionalisme” jelas Suharyanti.
Menurutnya, dunia kerja hari ini membutuhkan lulusan komunikasi yang tidak hanya mampu berbicara atau menulis dengan baik, tetapi juga mampu membaca konteks, memahami kepentingan organisasi, serta menyesuaikan strategi komunikasi dengan kebutuhan audiens.
“Kami ingin mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie memiliki kepekaan terhadap perubahan. Dalam dunia kerja yang semakin dinamis, kemampuan berkomunikasi harus berjalan bersama kemampuan berpikir strategis, adaptif, dan etis,” tambahnya.
Dalam paparannya, A. Firmannamal, Ph.D. menekankan pentingnya kolaborasi dan kemampuan adaptif dalam komunikasi organisasi, terutama di lingkungan pemerintahan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan. Menurutnya, komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada penyampaian pesan, tetapi juga pada kemampuan membangun koordinasi, memahami situasi, dan menjaga kepercayaan publik.
“Dalam organisasi, terutama di sektor pemerintahan, komunikasi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi menjadi kunci karena setiap pesan, keputusan, dan respons publik melibatkan banyak pihak. Karena itu, seorang komunikator harus mampu bekerja lintas unit, lintas kepentingan, dan tetap adaptif terhadap perubahan situasi” kata Firmannamal.
Ia juga menegaskan bahwa tantangan komunikasi di era saat ini semakin kompleks karena organisasi dituntut untuk bergerak cepat, tetapi tetap akurat dan bertanggung jawab.
“Kecepatan memang penting, tetapi dalam komunikasi kelembagaan, ketepatan, koordinasi, dan sensitivitas terhadap konteks tidak boleh hilang. Komunikator perlu adaptif, tetapi tetap memiliki pijakan etika dan pemahaman terhadap organisasi” lanjutnya.
Sementara itu, Bernadeta Dwi Hapsari membahas tantangan komunikasi bisnis dan organisasi dalam konteks dunia kerja lintas generasi serta kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau AI. Ia menjelaskan bahwa organisasi saat ini diisi oleh generasi dengan cara kerja, ekspektasi, dan gaya komunikasi yang berbeda-beda.
“Di tempat kerja, kita berhadapan dengan berbagai generasi yang memiliki cara berkomunikasi, cara menerima arahan, dan cara memaknai pekerjaan yang tidak selalu sama. Tantangannya adalah bagaimana organisasi dapat membangun komunikasi yang tetap jelas, terbuka, dan saling menghargai” ujar Bernadeta.
Menurut Bernadeta, perkembangan AI turut mengubah cara kerja organisasi, termasuk dalam proses komunikasi internal, pengelolaan pekerjaan, hingga pengambilan keputusan. Namun, ia menekankan bahwa teknologi tidak menggantikan pentingnya keterampilan komunikasi manusia.
“AI dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi kemampuan manusia untuk memahami konteks, membangun relasi, berempati, dan mengambil keputusan secara bijak tetap sangat penting. Justru di era AI, kemampuan komunikasi menjadi semakin krusial” tambahnya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa komunikasi organisasi dan komunikasi bisnis memiliki hubungan yang erat dengan kepemimpinan, budaya kerja, profesionalisme, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan kerja modern. Melalui paparan dari dua sektor yang berbeda, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa praktik komunikasi dapat memiliki bentuk yang beragam, tetapi tetap membutuhkan fondasi yang sama: kejelasan pesan, pemahaman audiens, kolaborasi, dan etika.
Guest lecture ini dimoderatori oleh Kurniati Putri Haerina, M.I.Kom., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie. Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab antara mahasiswa dan narasumber, khususnya mengenai kesiapan menghadapi dunia kerja, komunikasi lintas generasi, penggunaan AI secara profesional, serta tantangan menjadi komunikator di organisasi pemerintahan maupun korporasi.