Jakarta, 11 Juni 2026. Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie bekerja sama dengan Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan guest lecture “Color of Jakarta Goes to Campus: Visual Storytelling & Destination Branding”. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 11 Juni 2026, di Ruang 29 dan 30, Lantai 41 Kampus Bakrie Tower.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Color of Jakarta Goes to Campus” yang diinisiasi oleh Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta. Program ini mengajak masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk menceritakan narasi positif tentang Jakarta melalui karya fotografi.
Guest lecture ini menghadirkan Barry Kusuma, travel photographer dan videographer, sebagai narasumber. Sesi dipandu oleh Pongky Adhi Purnama, BFA., M.Sn., Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, sebagai moderator. Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang terdiri atas mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, khususnya dari mata kuliah Fotografi PR.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Suharyanti, M.S.M, Ph.D menyampaikan bahwa kerja sama dengan Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta menjadi ruang penting untuk mempertemukan mahasiswa dengan praktik komunikasi publik secara langsung. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar fotografi sebagai keterampilan teknis, tetapi juga sebagai bagian dari strategi membangun pesan, citra, dan persepsi publik.
“Dalam komunikasi, visual dapat menjadi cara untuk menyampaikan cerita, membangun citra, dan membuat sebuah pesan lebih dekat dengan audiens. Karena itu, mahasiswa perlu memahami bagaimana foto dan video dapat digunakan secara strategic” ujar Suharyanti.
Tema visual storytelling dan destination branding dinilai relevan dengan perkembangan komunikasi digital saat ini. Fotografi tidak lagi hanya dipahami sebagai dokumentasi, fotografi adalah alat komunikasi yang mampu membangun citra destinasi, menciptakan pengalaman, dan memperkuat identitas suatu kota atau daerah.
“Kerja sama dengan Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta ini sejalan dengan pendekatan experiential learning yang kami terapkan. Mahasiswa belajar langsung dari praktisi dan mitra strategis, sehingga pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas” tambahnya.
Dalam kegiatan ini, turut hadir Ied Sabilla, Kasubkel Sumber Daya Komunikasi Publik Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta, serta jajaran staf Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta.
Sebagai narasumber, Barry Kusuma membagikan pengalamannya dalam bidang travel photography dan videography. Barry dikenal melalui karya-karya visualnya dalam mempromosikan berbagai destinasi wisata di Indonesia. Berawal dari hobi traveling dan fotografi sejak masa kuliah, ia kemudian mengembangkan minat tersebut menjadi profesi dan berkolaborasi dengan berbagai institusi, termasuk kementerian dan dinas pariwisata di Indonesia.
Barry menekankan bahwa kekuatan fotografi tidak hanya terletak pada keindahan gambar, tetapi juga pada cerita yang dibawa oleh visual tersebut.
“Foto yang kuat bukan hanya foto yang indah dilihat. Foto yang kuat adalah foto yang punya cerita, konteks, dan emosi. Dalam destination branding, visual harus bisa membuat orang merasa dekat dengan sebuah tempat, bukan hanya tahu bahwa tempat itu ada” ujar Barry Kusuma.
Menurut Barry, Jakarta memiliki banyak sisi yang dapat diceritakan melalui karya visual, mulai dari kehidupan masyarakat, ruang publik, budaya, mobilitas, kuliner, hingga dinamika kota yang terus bergerak.
“Jakarta punya banyak cerita. Tantangannya adalah bagaimana kita melihat kota ini dengan lebih peka, lalu menerjemahkannya menjadi visual yang jujur, menarik, dan relevan bagi audiens” tambah Barry.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie berharap kerjasama dengan Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta dapat terus berlanjut dalam bentuk kegiatan pendidikan, praktisi mengajar, magang, riset, maupun program komunikasi publik lainnya. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan praktik profesional, sekaligus memberi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana visual dapat digunakan untuk membangun narasi positif tentang Jakarta.